Sunday, July 28, 2013

Benarkah Kita Gak Punya Uang?

Beberapa waktu lalu, seseorang yang saya kenal sms ke saya, katanya mau pinjam uang untuk bayar tv kabel yang udah diputus karena udah telat bayar. Saya pun jawab kalo saat itu lagi menghadiri suatu acara dan gak bisa keluar untuk transfer. Dalam hati sebetulnya saya juga gak sreg untuk minjemin. Bukannya pelit, tapi saya tau kondisi keluarganya yang untuk makan aja pas-pasan. Sayangnya mereka sepasang orang tua yang selalu 'selalu melihat ke atas' tanpa mau melihat kenyataan sebenarnya. Suka berfoya-foya kalau ada sedikit uang lebih.

Udah cukup sering dinasehati untuk bisa mengatur keuangan. Gak usah, deh, pake tv kabel atau AC di rumah. Uang yang ada mending untuk beli makan dan menyekolahkan anak yang belum juga disekolahkan dengan alasan gak punya uang.

Malamnya sepulang dari acara, saya menanyakan kembali tentang maksudnya meminjam uang. Dan dia menjawab gak jadi pinjam karena pakai uang buat beli beras dulu. Karena kecapean, saya gak melanjutkan pembicaraan. Walaupun dalam hati ada rasa heran ... gimana bisa, sih, uang untuk makan dipake bayar tv kabel?

Di cerita lain, pernah gak kita melihat seseorang mengeluh kalo untuk makan sehari-hari aja susahnya minta ampun. alasannya gak punya uang, tapi untuk merokok kuat banget dan gak brenti-brenti? Saya sering lihat seperti itu. Padahal rokok itu jangan lihat harga sebatangnya, karena sebenernya kalo ditotal-total konsumsi perokok itu mengeluarkan banyak uang. Mending buat kasih makan anak istri, deh!

Ada lagi pemandangan yang akhir-akhir ini bikin saya miris. Banyak yang berteriak ketika harga-harga pada naik. Terlebih sejak BBM naik menjelang Ramadan, tapi buktinya biar kata harga pada naik yang namanya "berburu" baju lebaran di mall tetep rame aja tuh. Oke, tapi mari kita anggap aja yang belanja baju lebaran itu mampu secara finansial.

Nah, yang bikin saya tambah merenung itu ketika melihat perkampungan yang katanya banyak warganya kurang mampu tapi setiap hari dari pagi hingga malam gak brenti-brentinya main petasan.Cetar-ceter tapi gak membahana, ah! Emang yang namanya petasan itu gratis, ya? Pasti enggak, kan. Beli petasan setiap hari mampu, ya. Tapi untuk beli makanan mengeluh mahal? Oh, mungkin petasan bikin perut kenyang kali, ya *maaf kalau saya jadi rada sinis.

Saya gak bermaksud mengatur hidup orang lain. Pada akhirnya terserah mereka. Uang mereka ini. Cuma aja ini jadi bikin saya jadi berpikir, seringkali kita merasa hidup kita ini susah secara financial sebetulnya belum tentu karena gak punya uang tapi karena kita tidak bijak dalam mengatur keuangan. Semua kebutuhan dicampur aduk, gak ada skala prioritas.

Semua pemandangan itu saya jadiin pelajaran aja buat saya. Semoga saya sekeluarga semakin bijak dalam mengatur keuangan. Aamiin

16 comments:

  1. Sama mba, dulu itu ada tetanggaku pinjam uang terus buat makan. Ekspresinya bikin aku kasihan banget, kirain susah banget. Eh setelah kuselidiki, lho kok anak2nya semua pegang hape, kan anaknya banyak. Trus, klo pagi sarapan jajan mulu di tukang nasi uduk. Kan lumayan juga klo keluarganya bnyak dan makan di warung terus. Aku aja masak sendiri biar irit. Sampe skrg masih ada sisa hutang yg belum dibayar, tp udah gak kutagih, males. Dia udah ga pernah minjem lg krn aku tolak setelah liat keadaan sebenarnya.

    ReplyDelete
  2. Banyak yang tidak bisa memilih kebutuhan mana yang lebih penting dan harus didahulukan. Jadi sering meminjam untuk kebutuhan yang seharusnya bisa ditiadakan.

    ReplyDelete
  3. Kalau saya mungkin karena belum punya anak bini mbak, jadi rokoknya lumayan watwut hehehe. Tapi enggak juga kok, soale saya juga beli rokok yang wajar sesuai kondisi keuangan.. Wis ah, gara-gara mbak Myra malah omongin rokok saya, puasa.puasa.. dilarang merokok

    ReplyDelete
  4. AKu pernah kaya gitu, dikejar-kejar eh maksudnya sampe disusulin ke rumah karena orang tersebut mau pinjam uang utk bayar sekolah anaknya. Tapi pas lagi ngobrol2, aku muji baju dan kerudungnya (yg emang bagus), dia dgn senangnya cerita kalo itu baru beli. Gubrak!

    Tapi aku diajari sama suamiku, kalo ada orang yg minta pertolongan ke kita, tanyakan ke hati (sendiri) ikhlas gak. Kalo ikhlas, kita gak perlu mempermasalhkan uang itu nantinya mau dipakai apa sama yg pinjam. Termasuk kl ternyata malah dipakai utk sesuatu yg menurut kita sebenarnya gak penting.

    Sejak itu aku belajar, kalo menolong ya menolong aja (kalo memang lg ada rezekinya). Mau dipakai untuk apa, itu berpulang ke si peminjam. Tentunya gak asal meminjamkan juga sih. Kalau orang mau pinjam uang untuk melakukan keburukan, ya males juga minjeminnya :)

    ReplyDelete
  5. Betul. Di mall juga banyak, berjubel
    Pengamen sambil merokok
    Warung tenda selalu full
    Stadion Senayan juga selalu full kalau ada pertandingan sepakbola atau konser musik
    7 dari 10 Orang desa punya TV dan HP

    Salam sayang selalu dari Surabaya

    ReplyDelete
  6. iya mak, benar-benar miris. kadang si bapak merokok, sedangkan istrinya pusing tujuh keliling tujuh tanjakan mikirin biaya sekolah anak dan untuk makan sehari-hari. padahal harga sebungkus rokok bisa loh buat lauk makan seharian sekeluarga!
    sama aja dengan konsumen petasan itu. uhh sebeeeel... bikin sport jantungs!
    nice sharing mak...
    *untungnya di rumah gak ada lagi tipi kabel (gak worth it antara tayangan dan biayanya tiap bulan) dan anak-anak gak pernah rewel minta petasan. hidup baby TV! hehehe...

    ReplyDelete
  7. Saya jg pny tetangga kayak gt mbak. Hidup pas2an, tp suka telponan. Tiap suaminya dpt gaji mingguan, buat byr utang pulsa hampir 100rb. Kalo dpt uang semacam Blsm malah buat foya2. Geregeten jg liatnya *kok malah curhat* hehe

    ReplyDelete
  8. Hahaha..... jadi bayangin banyak fulan di sekitar.
    memang begitulah hidup.

    ReplyDelete
  9. Yang umum di masyarakat kita ya itu tadi. Buat beli makanan nggak ada, tapi kalau buat beli rokok ada.

    ReplyDelete
  10. kondisi demikian memang aku alami sendiri dalam kenyataan TAPI BUKAN KARENA tak ADA SKALA PRIORITAS, entah kenapa terasa pincang dan pincang yang terkadang membuat otak ini harus berpikir 1000x. Akhh semoga saja, bisa segera keluar dari pusaran ini. Anggap saja badai pasti kan berlalu.

    ReplyDelete
  11. hehe,,bener banget mbk,katanya g punya uang tapi anak2nya pada pegang HP,bahkan HP nya lebih bagus daripada punya kita hihihi........

    ReplyDelete
  12. uh...banyak bangeeeed yg seperti itu mah mba Chi, emang mesti jadi pembelajaran buat diri sendiri aja sih ya, jangan sampai seperti itu..

    ReplyDelete
  13. jadi pembelajaran berharga ya mak,... mengatur keuangan dgn benar akan membuat kita terhindar dari kesempitan.

    ReplyDelete
  14. Saya belum bisa ke Mall beli baju mbakk.. Hadeuh, bbm udah naik pula, berapa ya harganya nanti.? :)

    ReplyDelete
  15. ada yang meminjam uang dengan alasan butuh banget tapi ternyata dipergunakan untuk berfoya-foya padahal yang meminjamkannya itu memakai uang yang harusnya untuk persediaan ada apa2

    ReplyDelete

Adv

Related Post

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...